Di tengah derasnya arus informasi, semakin banyak individu mengalami stres digital.
Digital detox mulai dianggap sebagai kebutuhan.
Secara sederhana, digital detox adalah waktu khusus tanpa media sosial dan notifikasi.
Bukan berarti anti-digital, tapi lebih ke mengendalikan penggunaan.
Pakar perilaku digital mengatakan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk menerima notifikasi tanpa jeda.
“Setiap hari kita terpapar ribuan stimulus visual dan emosional,” terang pakar mindful behavior, dalam konferensi daring.
Sejumlah startup kesehatan mental mendorong pegawai mengambil “offline day” secara rutin.
Program ini mencakup aktivitas seperti yoga, meditasi, journaling, dan waktu hening tanpa layar.
Memberi ruang jeda dari distraksi digital.
Pendekatan mindfulness menjadi pelengkap ideal bagi digital detox.
Prinsipnya sederhana: hadir sepenuhnya dalam apa pun yang sedang dikerjakan.
Menurut survei global 2025, pengguna media sosial yang mengatur waktu online rata-rata mengalami peningkatan fokus 40%.
Tren ini juga meningkat di Indonesia.
Komunitas wellness menyarankan memulai dari langkah kecil.
“Gunakan mode senyap saat makan atau istirahat,” saran dr. Nirmala.
Seiring perubahan pola kerja dan gaya hidup, digital detox bukan lagi tren sesaat.
Teknologi seharusnya membantu, bukan menguasai.